Senin, 08 Oktober 2012

Filsafat Sains menurut Al-Quran


FILSAFAT SAINS MENURUT AL-QURAN
Diajukan untuk memenuhi tugas Mandiri
Mata Kuliah : Keterpaduan Islam dan Iptek
Dosen Pengampu : Edy Candra, S.si, MA







 
 







Oleh :
Kalela Sari

Tarbiyah/ IPA-Biologi-D / Semester VII


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI CIREBON
2012

1.    INFORMASI BUKU

a.     Pengarang                   : Dr. Mahdi Ghulsyani
b.    Judul Buku                  : Filsafat Sains Menurut Al-Quran
c.     Tahun terbit                 : 1998
d.    Terbitan                       : Islamic Propagation Organization
e.     Edisi ke                       : I, 1986
f.   Cetakan ke                  : X (Sepuluh)
g.    Jumlah Bab                 : III (Tiga)
h.    Jumlah Halaman          : 160
i.   Sistematika                  :
1.    KATA PENGANTAR
2.    BAB I.  SAINS DAN UMAT ISLAM
3.    BAB II. KEPENTINGAN ILMU-ILMU KEALAMAN MENURUT ISLAM
4.    BAB III. FILSAFAT SAINS: SUBUAH PENDEKATAN QURANI
5.    DIMENSI KEILMUAN AL-QURAN
6.    CATATAN-CATATAN DAN RUJUKAN-RUJUKAN














2.    RINGKASAN BUKU
Salah atu ciri yang membedakan islam dengan yang lainnya adalah penekananya terhadap maslah ilmu (sains). Al-Quran dan Al-sunah mengajak kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat yang tinggi. Sebagian dari ayat-ayat Al-Quran dan Al-Sunah disebutkan dalam Al-Quran yang diwahyukan kepada Rasulallah saw, menyebutkan pentingnya membaca, pena, dan ajaran untuk manusia:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah manusia dari segumpal darah. Bacalah Dan Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS 96:1-5)
Masalah-masalah ilmu yang dianjurkan islam merupakan pokok penting dalam islam. Masah ini berkenaan dengan pendapat yang diajukan semenjak masa silam. Salah satunya Al-Ghazali mengklasifikasikan ilmu agama dalam 2 kelompok: terpuji (mahmud) dan tercela (madzmum). Ilmu yang terpuji dibagi ke dalam 4 kelompok:
1.    Ushul (dasar-dasar, yaitu: Al-Quran, Al-Sunah, ijma’, atau konsensus dan tradisi para sahabat Nabi)
2.    Furu’ ( masalah-masalh seunder atau cabang, yaitu: masalah-masalah fiqih, etika dan pengalaman mistik)
3.    Studi-studi pengantar (qaidah, sharaf bahasa arab)
4.    Studi-studi pelengkap (membaca dan menerjemahkan Al-Quran, mempelajari prinsip-prinsip fiqihpenyelidikan biografi para perawi hadits)
Perlunya mempelajari ilmu-ilmu lain dalam Al-quran dan Al-sunah, mempunyai beberapa alasan yaitu:
1.    Jika pengetahuan dari suatu ilmu merupakan persyaratan mencapai tujuan-tujuan islam sebagaimana dipandang oleh syariah, maka mencarinya merupakan sebuah kewajiban, karena ia merupakan kondisi awal untuk memenuhi kewajiban syariah.
2.    Masyarakat yang dikehendaki oleh Al-quran adalah masyarakat yang agung dan mulia.
3.    Al-quran menyuruh manusia mempelajari sistem da skema penciptaan, keajaiban-keajaiban alam, sebab-sebab dan akibat-akibat seluruh benda-benda yang ada, seluruh tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang ada di alam eksternal dan kedalaman-kedalaman batin jiwa manusia.
Ilmu yang berguna mempunyai beberapa kriteria yaitu dapat menigkatkan pengetahunnya akan allah, dapat membantu mengembangkan masyarakat islam dan merealisasikan tujuan-tujuannya serta dapat membimbing orang lain.  
Seluruh ilmu, baik-ilmu-ilmu teologi maupun ilmu-ilmu kealaman merupakan alat untuk mendekatkan diri kepada allah, dan selama memerankan peran ini maka ilmu itu suci. Akan tetapi kesucian ini tidak intrinsik. Aneka ragam pengetahuan tidaklah asing satu sama lain karena pada masing-masing jalannya sendiri, ilmu-ilmu itu menafsirkan berbagai lembaran kitab penciptaan kepada kita.  
Selama periode antara tahun 750 M dan tahun 1100 M orang-orang islam adalah pemimpin-pemimpin dunia intelektual yang tak dapat disanggah dan antara tahun 1100 dan 1350 M, pusat-pusat belajar di dunia muslim secara global sangat penting dan menarik banyak orang dari berbagai penjuru dunia.
Setelah tahun 1350 M orang-orang Eropa mulai maju dan dunia muslim gagal, hal tersebut diakibatkan oleh beberapa faktor:
1.      Orang-orang Eropa berjuanag menyingkap hukum-hukum alam yang tersembunyi dan menemukan cara-cara mengekspliotasi kekayaan dan sumber-sumbernya sedangkn orang islam menghentikan kegiatan-kegiatannya.
2.      Orang islam yang menuntut ilmu empiris kebanyakan tersaing dari ilmu-ilmu agama.
3.      Penghapusan studi ilmu-ilmu kealaman dari kurikulum madrasah-madrasah agama dn kurangnya hubungan dengan sumber-sumber ilmu modern pada kelompok sarjana-sarjana agama telah mengakibatkan dua intelektual yang menyimpang di dunia kaum muslimin:
a.       Sebagian kaum muslimin dibawah pengaruh kemajuan keilmuan dan  tehnologi barat.
b.      Sebagian sarjana agama menganggap teori-teori ilmiah bertentangan dengan dokrin-dkrin islam dan begitu menunjukan serangannya dengan sains.
Studi Al-Quran dan Al-sunah menunjukan dua alasan fundamental, islam mengakui signifikasi sains:
1.    Peranan sains dalam mengenal Tuhan
Di dalam Al-Quran lebih dari 750 ayat yang menunjuk kepada fenomena alam dan manusia diminta untuk dapat memikirkannyaagar dapat mengenal Tuhan lewat tanda-tandanya.
Contoh ayat Al-Quran:
Maka hendaklah manusia memperhatikan, dari apa ia diciptakan?(QS 86:5)
Dan allah telah menciptakan segala mahluk hidup dari air. (QS 24:45)
Bagaimanapun orang tidak boleh lupa bahwa Al-Quran bukanlah buku teks
sains eksperimental, dan jika ia menerangkan beberapa fenomena itu dikarenakan beberapa alasan:
a.       Studi fenomena alam dan keajaiban-keajaiban penciptaan akan memperkuat keimanan manusia kepada Tuhan
b.      Dengan keakraban terhadap kesempatan-kesempatan yang telah dianugrahkan Tuhan kepada manusia ia lebih dapat mengenal allah.
2.    Peran sains dalam stabilitas dan pengembangan masyarakat islam
Menurut Al-Quran, islam adalah agama yang universal:
Katakanlah: “wahai manusia sesunguhnya aku adalah utusan Tuhan kepada kamu semua. (QS 7:158)
Pada abad ke tujuh setelah hijriyah, ibnu ikhwah telah mengeluh bahwa kebanyakan dokter di masyarakat muslim pada zamannya adalah orang-orang Yahudi dan Kristen dan orang-orang islam mengabaikan tugas ini. Sekarang kita melihat bahwa kaum muslimin tidak bisa menggunakan sumber-sumber mereka dan membiarkan orang lain mengeksploitasi meraka. Sebagaimana syair Iqbal mengatakan:
Muslim kemarin bangga dan dihormati karena ilmunya
Tetapi hari ini punggung mereka menunduk (di hadapan orang lain)
Sebagaimana juga Maulawi dalam syairnya:
Memberi ilmu dan seni kepada orang-orang jahat,
Adalah laksana memberi pedang kepada perampok.
Tidak lebih jahat daripada mempersenjatai penjahat dengan  ilmu
dan kekayaan.
Ilmu dan jabatan adalah penyebab korupsi pada orang-orang jahat,
Maka dari itu, wajiblah bagi orang yang beriman merebut tombak
dari tangan orang gila dan jahat.
Orang-orang islam harus mencoba untuk membuat diri meraka mampu berswasembada dan mandiri. Karena alsan inilah para ahli hukum islam telah memberi fatwa bahwa suatu tindaka yang mengarah pada supremasi orang-orang kafir terhadap kaum muslimin adalah haram.
Dalam islam segala sesuatu berputar di sekitar poros kesatuan Tuhan (tauhid) dan kelayakan sains dan teknologi didasarkan pada fakta itu adalah alat yang dapat menambah pengetahuan kita tentang tuhan dan efektif dalam mendirikan masyarakat tauhid yang mandiri.
Agar dapat merih sukses kebangkitan sains dalam kebijaksanaan islam, maka beberapa maslah penting yang harus diperhatikan adalah:
a.       Jelaslah bahwa pada saat ini kaum muslimin perlu mempelajari sains dan teknologi dari negara-negara yang maju dalam bidang-bidang ini.
b.      Kita harus menhhidupkan kembali semangat ilmiah para sarjana pendahulu kita dan semangat meraka untuk membentukkembali cabang-cabang ilmu dan memanfaatkannya demi kemajuan peradaban islam.
c.       Menurut Al-Quran manusia adalah khalifah di bumi. Untuk dapat memerankan ini Tuhan telah memberi manusia segala bentuk pemberian dan merahmatinya dengan akal.
d.      Di sekolah dan universitas negara-negara islam, perhatian yang cukup harus diberikan pada pencucian moral para pelajar.al-Quran menyebut para pengikut islam sebagai umat yang mempunyai keseimbangan dengan adil.



filsafat sains: sebuah pendekatan Qurani:
1.    Tujuan pemahaman alam
Dalam visi Al-Quran, fenomena alam merupakan tanda-tanda yang mahakuasa dan suatu pemahaman tentang alam adalah analog dengan pemahaman dengan tanda-tanda yang bisa membawa kita meraih pengetahuan tentang Tuhan.
Dan diantara tanda-tanta kekuasannNya, Dia memperlihatkan kepada mu kilat untuk (menimbulkan) kekuatan dan harapan dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akal. (QS 30:24)
2.    Kemungkinan memahami alam
Di dalam Al-Quran banyak sekali ayat yang menyuruh manusia mempelajari alam:
Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kukuasan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada jiwamu sendiri. Apakah kamu tidak memperhatikan? (QS 51:20-21)
3.    Masalah-masalah utama dalam memahami alam
Dalam hubungannya dengan fenomena alam, ada beberapa masalah yang ditunjukan di dalam Al-Quran, masalah tersebut adalah:
a.       Asal usul dan evolusi mahluk-mahluk dan fenomena
Maka apakah meraka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan dan langit, bagaimana ia ditinggikan dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan dan bumi bagaimana ia dihamparkan?
 (QS 88: 17-20)
b.      Penemuan,aturan dan tujuan alam
Di dalam beberapa ayat disebutkan bahwa kejadian-kejadian mengikuti suatu jaur alami untuk periode tertentu yang sebelumnya telah ditentukan.
Dan mengapa mereka tidak merenungkan diri meraka sendiri? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan diantara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya. (QS 23:115)
c.       Manfaat kekayaan alam yang disediakan Tuhan bagi manusia secara sah
Dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah bahwa ia mengirimkan angin  sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepada mu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya, mudah-mudahan kamu bersyukur. (QS 30:46).
Dalam ayat ini alasan pengingat manusia akan rahmat-rahmat Allah adalah untuk menjdikan akrab dengan pemberian-pemberian itudan untuk memberikan syukur kepada Allah.
4.    Cara-cara memahami alam
Melalui ayat-ayat Al-Quran saluran-sluran yang kita gunakan untuk memahami alam adalah indera-indera eksternal, intelek yang tak terkotori oleh sifat-sifat buruk), serta wahyu dan inspirasi.
1)   Peranan pengamatan (observasi dan penalaran daam memahami alam).
Dan apakah meraka tidak memperhatiakan bumi, berapa banyak kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik? (QS 26:7)
Dalam ayat ini pengamatan dan penglihatan, contoh fakta yang alat mendapatkan pengetahuan yaitu lewat seekor burung gagak, allah mengaari qabil bagaimana menguurkan mayat, Tuhan mengajari manusia bijak mengenai kemungkinan memberikan kehidupan yang baru kepada yang mati serta Tuhan menunjukan kepada Ibrahim bagaimana Dia menghidupkan yang mati.
Banyak orang melakukan eksperimen akan tetap mereka tidak dapat pengwtahua tentang Tuhan secara nominal sains hanya terdiri atas pernyataan-pernyataan yang diverifikasi dengan metode-metode eksperimental.
Dalam sebuah ceramah yang disampaikan Einsteindi Universitas Oxford pada tahun 199, dengan judul On Method of Theoritical Phisics, dia mengatakan “newton menciptakan pertama sebuah sistem fisika teoritis yang komperhensif dan dapat bekerja, masih percaya bahwa konsep-konsep dan hukum-hukumdasar sistemnya dapat diturunkan dari pengalaman.
Dalam bukunya Physics and Beyond pada tahun 1926 Heisenberg menulis bahwa Einsten masih mempercayai pandangan positives Mach, yaitu bahwa hanya kuantitas-kuantitas teramati yang dapat dimasukkan ke dalam teori fisika. Lantas Einstein mengakui: “mungkin saya menggunakan bentuk penalaran ini, tapi ia berarti apa-apa. Barangkali saya dapat lebih diplomatis dengan mengatakan bahwa ia bisa jadi secara heuristik berguna untuk mengingat apa yang benar-benar diamati orang.
2)   Peranan wahyu dan ilham dalam memahami Al-Quran
Guru sejati seuruh ilmu pengetahuan yang sebenarnya adalah Allah yang Maha tinggi:
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Yang mengajari (untuk menulis) dengan pena. Mengajari manusia, apa yang tidak diketahuinya. (QS 96: 1-5)
Sumber ilham (inspirasi) utama manusia dalam masalah pengetahuan adalah pemberi ilmu yang Mha Tinggi, yaitu Allah. Akan tetapi tingkat hubungan manusia dengan Allah ini berbeda dari orang ke orang.
Al-Quran menunjukan cara yang ebih langsung dalam meraih pengetahuan akan realitas dunia lewat sang pemberi pengetahuan, cara ini bukanlah cara yang umum dan hanya orang-orang yang beriman sajalah yang mampu melewatinya, diantaranya yaitu: Tuhan memberikan ilmu khusus kepada orangorang yang beriman pilihan, allah memberi wahyu kepada para Nabi, kemungkinan memberikan wahyu kepada orang-orang selain Nabi.
          Para filosof muslim percaya bahwa manusia yang memiliki kemampuan untuk meraih ilmu langsung semacam itu ialah meraka yang dianugerahi dengan “fakultas kewalian” (quwwah qudsiyah atau saintly faculty). Wahyu memiliki beberapa tingkatan, sebagaimana ditetapkan oleh ayat berikut:
Rasul-rasul itu kami lebihkan sebagian meraka atas sebagian yang lain. Diantara meraka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan Dia) dan bagi sebagian dari meraka Allah meningikannya beberapa derajat. Dan kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapA mukjizat serta kami perkuat dia dengan ruh suci (ruh Qudus). (QS 2:253)
5.    Tingkatan-tingkatan dalam memahami alam
Melalui indera eksternal dan intelek manusia seharusnya lebih dekat kepada Tuhan dengan memahami tanda-tanda ilahi. Allah selalu memberikan memberikan kemampuan memahaminya kepada manusia-manusia dari kelompok khusus diantaranya: orang yang arif, orang-orang yang memahami (Ulil-Albab), orang-orang beriman, orang yang berilmu, orang yang ingat/sadar, orang-orang yang mendengarkan firman Tuhan, orang-orang yang yakin serta orang-orang yang menguji kebenaran dan memiliki wawasan.
Yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang memahami. (QS 39:18)
Kita dapat melihat bahwa Ulil albab memiliki hampir seluruh karakteristik di dalam Al-Quran untuk memahami alam.
Dalam meraih pengetahuan yang tinggi, dibutuhkan kalifikasi-kualifikasi yang disebutkan di dalam ayat-ayat yang telah dikutip yaitu:
1)      Ada tingkatan-tingkatan pemahaman fenomena yang berbeda-beda
2)      Untuk memahami fenomena-fenomena alam yang berbeda-beda ada prasyarat-prasyarat yang berbeda-beda pula.
3)      Untuk bisa memahami alam lebih dalam, para peneliti harus mencoba mendapatkan karakteristik-karakteristik tersebut di ats sebanyak mungki. Karekteristik tersebut dapat diringkas dengan tiga kategori yaitu kecakapan ilmiah, intelek (analitis) yang lebih tinggi, dan iman dengan ketakwaan.



6.    Alangan-alangan pengetahuan
Al-Ghazali dalam bukunya Ihyah ‘Ulum Al-Din mengatakan bahwa hati manusia itu menyerupai sebuah kaca cermin yang memantulkan gamabar baik gambar-gambar yang jelas ketika cermin itu disinari dan dibersihkan. Tetapi ketika ia dipengruhi kualitas-kualitas jahat sepertidebu yang menutupi kaca cerminia tidak dapat menyingkap realitas-realitas.
Dalam Al-Quran disebutkan:
. . . . kalau kami menghendaki tentu kami azab meraka karena dosa-dosanya dan kami kunci mati meraka sehingga mereka tidak dapat mendengar.
(QS 5: 108)
Hati manusia yang dapat mengenal realitas-raelitas, bisa jadi kehilangan kemampuan itu jika dipengaruhi oleh salah satu dari lima sebab berikut:
a.       Cacat bawaan
b.      Kegelapan dikarenakan dosa-dosa dan hawa nafsu
c.       Tidak memberi perhatian pada realitas-realitas
d.      Adanya alangan-alangan dalam mengenali realitas-realitas
e.       Pengabaian metode untuk mencapai objek dalam pandangan
Faktor-faktor yang yang menghalangi dari pengamatan yang benar menurut Al-Quran yaitu:
1.      Ketiadaan iman
2.      Adanya faktor-faktor yang menyebabkan penyimpanagan akal
a.       Mengikuti hawa nafsu
b.      Cinta atau benci buta dan prasangka yang tak beralasan
c.       Takabur (kesombongan)
d.      Taqlid buta terhadap pendapat para pendahulu. Mereka memiliki kekuatan, dan pemikiran diri sendiri yang jumud
e.       Tergesa-ges dalam memutuskan
3.      Kebodohan
a.       Mengikuti perkiraan-perkiraan
b.      Konfirmasi dan penolakan-penolakan tak beralasan
c.       Kedangkalan
4.      Ketidakperdulian terhadap kerinduan akan penerimaan kebenaran.
7.    Dasar-dasar petunjuk dalam memahami alam
. . . . Dan kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (QS 16:89)
Prinsip-prinsip yang harus digunakan sebagai pembimbing dalam riset imiah yaitu:
a.       Iman dalam prinsip kesatuan ilahi (tauhid)
Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada Allah. (QS 51:56)
Dari sini, stiap langkah yang diambil harus ditujukan kepada peraihan ridha-Nya dan untuk menyingkap alam tanpa terkecuali terkait pada aturan ini.
b.      Keyakinan terhadap realitas dunia eksternal
Menurut pandangan Al-Quran, terdapat dunia eksternal yang tak bergantung pada pikiran kita:
Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada jiwamu sendiri, maka apakah kalian tidak memperhatikan? (QS 51:20-21).
c.       Keyakinan terhadap realitas suprafisikdan keterbatasan pengetahuan manusia.
Dari Al-Quran kita belajar prinsip-prinsip ini meliputi:
1.      Pengetahuan manusia terbatas
2.      Ada banyak hal yang tidak bisa kita raih lewat indera
3.      Kita harus percaya pada yang gaib, yaitu realitas-realitas supranatural
4.      Percaya kepada prinsip kausalitas umum
Shadr Al-Din Syirazi menerangkan pandanagn para filosof muslim:
“ kelompok filosof yang lain dn sebagian elite diantara ulama-ulama imamiah mengatakan bahwa di dalam penerimaan eksistensi dari sumber, objek-objek itu beragam. Beberapa tidak muncul dalam eksistensi jika tak ada wujud lain yang mendahuluinya dengan cara yang sama eksiden harus mengikuti substansi.
Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kalian tanam. Kaliankah yang menumbuhkannya ataukah kami sebab yang menumbuhkannya? Kalau kami kehendaki, maka benr-benar akan kami jadikan dia itu kering dan hancur maka jadilah kalian heran dan tercengang, (sambil berkata): “ sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian,” bahkan menjdi orng yang tidak mendapat hasil apa-apa. Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kalian minum. Kalian kah yang menurunkan dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau kami kehendaki niscaya kami jadikan dia itu asin, maka mengapakah kalian tidak bersyukur? (QS 56: 63-70).
Syahid Dr. Behesyti mengatakan: “faktanya adalah Al-Quran ingin membimbing manusia dari akhir rangkaian ini, yaitu dari hal-hal yang dapat diindera, kepada akhir rangkaian yang lain yaitu Allah. Al-Quran menghendaki manusia untuk tidak berhenti pada sebab-sebab perantara dan gagal dalam mencapai sumber.


















3.    KOMENTAR TENTANG BUKU
1)      KELEBIHAN
a.       Dalam buku ini dipaparkan secara sistematis dan berurutan dari isi tiap-tiap babnya.
b.         Dalam pemaparan tentang sains diperkuat  dengan ayat-ayat
 al-quran
c.         Menjelaskan teori tentang sains dari penemuan-penemuan orang-orang barat yang dibandingkan dengan kebenaran Al-Qur’an.
d.        Menjelaskan kemunduran umat muslim dalam ilmu sains yang tergantikan oleh orang barat, sehingga mengajak pembaca untuk kembali meraih ilmu sains yang di dasarkan pada Al-Quran
e.         Buku ini mengajak kita untuk menjaga bumi kita sebagai khalifah di bumi.
f.          Mengajak pada ketauhidan bahwa semua yang ada di bumi ini adalah ciptaan Allah yang patut kita syukuri.
g.         Mengajak manusia meyikapi alam untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.

2)      KEKURANGAN
a.       Dalam penulisannya tidak menggunakan ejaan yang disempurnakan sehingga ada tata bahasa yang rancu.
b.      Buku ini tentang filsafat sains menurut Al-Quran, tetapi isi daam buku ini tidak terdapat tulisan Al-quran hanya terdapat terjemahannya saja.
c.       Tata bahasa yang kurang memperhatikan ejaan yang benar menyulitkan pembaca dalam memahami isi buku.
d.      Ukuran front hurufnya berbeda antara terjemahan Al-Quran dengan penjelasan isi buku




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar